Mengenal Macam-macam Penyakit di Gunung

Mendaki gunung merupakan suatu kegiatan yang makin banyak digemari kalangan pemuda-pemuda saat ini. Namun, masih banyak pendaki yang kurang mengetahui tentang resiko dan bahaya yang mungkin mereka hadapi saat melakukan kegiatan pendakian gunung. Salah satunya adalah penyakit yang kapan saja bisa menyerang para pendaki gunung.

Berikut ini macam-macam penyakit di gunung dan penjelasannya yang saya berhasil kumpulkan dari berbagai sumber dan buku teknik pendakian gunung ;

1. Heat Cramps

13.03.07-heat-cramps

Heat Cramps ( Kram Karena Panas ) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam ( termasuk natrium, kalium dan magnesium ) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, Heat Cramps bisa menyebabkan Heat Exhaustion.

Gejalanya :
Kram yang tiba – tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki,
Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.

Penanganan :
Dengan meminum atau memakan minuman / makanan yang mengandung garam.

2. Heat Exhaustion

symptoms-of-heat-exhaustion

Heat Exhaustion ( Kelelahan Karena Panas ) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena /terpapar panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan. Jika tidak segera diatasi, Heat Exhaustion bisa menyebabkan Heat Stroke.

Gejalanya :
Kelelahan,
Kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat,
Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas,
Denyut jantung menjadi lambat dan lemah,
Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab,
Penderita menjadi linglung / bingung terkadang pingsan.

Penanganan :
Pindahkan korban dengan segera ketempat yang sejuk, buka seluruh baju luarnya,
Bungkus korban dengan selimut yang sejuk dan basah. Usahakan agar selimut tetap basah. Dinginkan korban hingga suhunya mencapai 38° Celcius,
Saat temperatur mencapai 38° celcius, ganti selimut basah dengan yang kering, lanjutkan perawatan pada korban secara hati – hati.

3. Mountain Sickness ( Penyakit Gunung )

Penyebab utamanya adalah penurunan kadar oksigen didalam darah karena berada diketinggian tertentu. Ini sering terjadi pada pendaki gunung di sini. Penyebabnya kurangnya kemampuan aklimatisasi dari tubuh pendaki. Kemudian penyakit ini juga bisa ditimbukan akibat pergerakan mencapai ketinggian tertentu yang terlalu cepat.

Ada tiga jenis mabuk gunung, yaitu AMS, HAPE, dan HACE.

a)AMS (Acute Mountain Sickness) adalah bentuk awal dari mabuk gunung. Pendaki yang rentan sudah mulai mengalami gejala ringan AMS pada ketinggian 1,200 mdpl. Itulah sebabnya, ketika berada di pos pendakian (belum mendaki), beberapa orang sudah kelihatan tidak sehat. AMS bisa diidentifikasi dari gejala-gejala:

* Pusing atau pening
* Mual sampai muntah-muntah
* Napas tersengal-sengal pada saat melakukan aktivitas fisik
* Kelelahan (fatigue)
* Hilang napsu makan
* Sulit tidur
* Menyendiri, malas bergaul dan berkomunikasi (social withdrawal)

Apabila mendapatkan perhatian dan perlakuan sebagaimana mestinya, AMS umumnya tidak berakibat fatal. Sebaliknya, bila kondisi ini tidak dipahami dan diabaikan, masalah lebih serius mengancam. Sayangnya, pemanjat gunung sering cuek-bebek terhadap gejala-gejala itu. Kebanyakan menganggap gejala-gejala AMS semata-mata hanya karena terlalu capai, stamina loyo, kurang tidur, atau bahkan masuk angin. Dari pendapat ini, umumnya penderita AMS hanya merasa perlu beristirahat sebentar, kemudian naik lagi. Meskipun beristirahat ada benarnya, perlakuan semacam itu keliru. Mabuk gunung bukanlah persoalan capai, bukan pula persoalan kondisi fisik (lihat Susceptibility).

b)HACE (High Altitude Cerebral Edema) merupakan perkembangan lanjut dari AMS. Pada tahap ini, banjir cairan sudah tak terkendali seperti lumpur Lapindo. Luapannya sampai ke otak sehingga bengkak. HACE memang sangat jarang terjadi pada ketinggian di bawah 2,700 mdpl. Kasus HACE sering mengancam pada skala elevasi Very High (3.600-5.500 mdpl) dan lebih sering pada Extremely High (>5.500 mdpl). Tetapi pendaki yang sudah mengalami AMS, bila terus menambah ketinggian pada waktu yang cepat, di ketinggian berapa pun, tetap mudah terkena HACE.

Rasa letih yang jauh lebih parah, biasanya dialami penderita HACE. Selain gejala-gejala AMS, gejala lain yang mungkin kelihatan pada penderita HACE adalah:

* Kehilangan koordinasi gerakan, sempoyongan bila berjalan
* Kebingungan, irasional
* Mengalami halusinasi
* Meracau
* Lunglai, dan pada keadaan yang paling parah mengalami koma

Lebih dari lima puluh persen penderita HACE yang sampai mengalami koma, akhirnya tewas. Sementara yang berhasil bertahan, kebanyakan mengalami cedera otak permanen yang menyebabkan ketidaknormalan kondisi mental atau kekacauan koordinasi motorik. Kalau mendapatkan penanganan yang pas, jangan takut, asal belum sampai mengalami koma, penderita bisa pulih total.

c)HAPE (High Altitude Pulmonary Edema) adalah bentuk lain dari perkembangan AMS. Pada kasus ini, banjir kiriman mencapai paru-paru sehingga penderitanya mengalami kesulitan pernapasan. Akibatnya, efektifitas penyerapan oksigen menurun drastis. HAPE bisa terjadi sendiri, maupun serentak dengan HACE. Dalam hal pemburukan kondisi ke arah fatalitas, jangan main-main, HAPE lebih cepat!

Gejala penderita HAPE adalah:

* Napas tetap tersengal-sengal meskipun beristirahat
* Batuk berat disertai keluarnya busa putih
* Dada terasa sangat berat dan sesak
* Lunglai, lemas

Gejala-gejala seperti irasionalitas, kebingungan, dan gejala-gejala lain yang tampak pada HACE bisa juga muncul sebagai akibat dari kurangnya pasokan oksigen ke otak.

Penanganan :
Beristirahat yang cukup, pada umumnya gejala ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat selama 24 s/d 48 jam,
Jika kondisi tidak membaik turunkan si-penderita dari ketinggian tersebut, sekitar 500 s/d 600 meter.

4. Hypotermia

Hypothermia

Hypotermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh dibawah 35°C. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya ; suhu yang ekstrim, pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah dan kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.

Gejalanya :
Menggigil,
Dingin, pucat, kulit kering,
Bingung, sikap – sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi,
Jatuh kesadaran,
Bernapas pelan dan pendek,
Denyut nadi yang pelan dan melemah.
Penanganan :
Jangan biarkan orang yang terkena hipotermia tidur, karena hal ini dapat membuatnya kehilangan kesadaran sehingga tidak mampu lagi menggangatkan badannnya sendiri. Menggigil adalah usaha secara biologis dari badan untuk tetap hangat, karena itu usahakan untuk tidak tidur,
Berilah minuman hangat dan manis kepada si penderita hipotermia,
Bila baju yang di pakai basah segera mungkin gantilah dengan baju yang kering,
Usahakan untuk mencari tempat yang aman dari hembusan angina, misalnya dengan mendirikan tenda atau pelindung lainnya,
Jangan baringkan si penderita di tanah dan usahakan agar memakai alas kering dan hangat,
Masukkanlah si penderita ke dalam kantong tidur. Usahakan agar kantong tidur tersebut di hangatkan terlebih dahulu ke dalam kantong tidur tersebut. Ingat, memasukkan penderita hipotermia ke dalam kantong tidur yang dingin tidak akan memadai karena badan si penderita tidak akan dapat lagi menghasilkan panas yang mampu menghangatkan kantong tidur tersebut,
Letakkan yang di isi dengan air hangat (bukan panas) ke dalam kantong tidur untuk membantu memanaskan kantong tidur,
Bila kantong tidur cukup lebar, maka panas badan orang yang masih sehat dapat membantu si penderita secara langsung, yaitu dengan tidur berdampingan di dalam satu kantong tidur. Kalau mungkin, dua orang masih sehat masuk ke dalam kantong tidur rangkap dua, kemudian si penderita di selipkan di tengah tengahnya,
Kalau dapat buatlah perapian di kedua sisi si penderita,
Segera setelah si penderita sadar berikanlah makanan dan minuman manis, karena hidrat arang merupakan bahan baker yang cepat sekali menghasilan panas dan energi.”

cc ; Januar Arifin
( http://www.janu-jalanjalan.com/ )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: